top of page

bidak meraja

Terlalu sering, gerak sosial diamati dari jauh, dan berfokus ke para pemain besar. Ibarat catur, yang dianggap penting dan genting adalah manuver para raja, ratu ster dan punggawa. Lalu melupakan bahwa ada bidak, yang seringnya hanya jadi korban, atau sebaik-baiknya, sekadar alat untuk mencapai tujuan. Maka betapa seringnya orang lupa bahwa mereka yang dianggap bidak itu juga sama-sama bernapas, punya jiwa, punya hasrat, punya ketakutan dan mungkin juga cita-citanya sendiri.

Nyatanya, sebagian memang memilih untuk memperjuangkan harga dirinya. Baik mereka yang jadi korban pergolakan politik seperti dalam Surat dari Praha, maupun yang bermanuver dengan kepentingan para pendonor kaya dalam Bermain di Antara Gajah-Gajah. Sementara dalam Kompilasi Bidak Meraja (SOIna, Kematian di Jakarta [Lagi], GUK! dan Heaven for Insanity), kita akan menyaksikan mereka yang berjuang mempertahankan harga diri itu bahkan hingga ke liang lahat.

Copyright © 2017 / kineforum

 

Taman Ismail Marzuki

Gd. Trisno Soemardjo, Lantai 4

Jalan Cikini Raya no. 73

Menteng, Jakarta Pusat

Mari bergabung di milis kami!

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon

Program dari

DKJ Baru.png
bottom of page