GENERASI KETERUSAN
“Anak jaman sekarang…” Tampaknya kami di kineforum sudah pernah mengutip omelan itu dan sejenisnya dalam pengantar program kami. Tapi memang itu omelan dari masa ke masa. Setiap zaman orang mengomel dan meremehkan anak muda di zamannya karena tidak sesuai ini itu harapan para tetua. Bahkan di zaman milenial ini, sebutan “milenial” saja seakan mewakili ejekan tentang gambaran sapu rata anak-anak yang tidak bisa bertatakrama di medium resmi, tidak bisa berpikir runut, dan sebagainya. Padahal anak “milenial” pun memiliki identitasnya sendiri, harapannya sendiri, kecemasannya sendiri. Siapa kita, misalnya, berhak menghakimi seorang cucu proklamator yang cerdas dengan dirinya sendiri dengan standar dan persepsi kita atas datuknya?
Program bulan Desember ini, sebagai penutup tahun, ingin mengusik ingatan tentang pentingnya transisi antar generasi, dan bagaimana tarik ulur antara pewarisan nilai dan adaptasi zaman membuat hubungan antar generasi menjadi riuh dan bikin baper. Masing-masing generasi punya potensi “keterusan”. Yang dianggap “penerus” bisa “keterusan” karena meleset dalam melawan atau mengacuhkan yang tua, sementara yang tua bisa “keterusan” karena terus-menerus ingin pegang kuasa, lantas lupa usia. Bagaimana pendidikan dan parenting dimaknai dan diterapkan? Kami ingin mengintip bagaimana di Indonesia hubungan dan tegangan itu direkam dan dimaknai melalui film.
Sampai jumpa di KINEFORUM bulan Desember ini. Awas keterusan!


