PERNIK KLENIK

Praktik metafisik tumbuh beriringan dengan peradaban manusia. Keterbatasan persepsi manusia memahami kondisi di sekitarnya menuntut penjelasan atas segala fenomena. Pasti ada maksudnya semua ini, bahkan jika tidak masuk nalar sekalipun. Bahkan di era yang katanya saintifik ini, ketika banyak penjelasan ada di genggaman, kita masih sering dengan mudahnya memilih percaya terhadap “yang lebih menyenangkan” untuk dipercaya. Misalnya, lebih nyaman percaya bahwa nasibmu buruk bulan ini karena Merkurius sedang miring orbitnya ketimbang harus mengiyakan bahwa nasib burukmu itu murni kesialan semata. Lebih menenangkan percaya bahwa musibah ini disengaja oleh suatu kekuatan supranatural untuk menegurmu ketimbang mempertimbangkan bahwa itu hasil kesalahanmu sendiri.

 

Maka pernik supranatural muncul dan menjadi solusi. Mulai dari sakit menahun, memperoleh kekayaan, lulus ujian, prediksi jodoh, hingga memenangkan pertandingan sepakbola. Sosok “juru selamat” bergantian disematkan pada nama-nama seperti Mama Lauren, Ponari, hingga yang terbaru, Ningsih Tinampi. Kemampuan khusus yang mereka miliki kerap kali dibenturkan dengan masalah moral dan nalar. Tak pelak mengundang cemoohan dan pandangan sebelah mata. 

 

Seiring dengan derasnya informasi dan konten yang bervariasi, saat ini kita semakin mudah terpapar dengan anggapan yang dulu tidak familiar. Jonathan Kent pada Man of Steel (2013), “People are afraid of what they don't understand”, rasa takut muncul dari ketidaktahuan. Seiring manusia semakin paham manusia pada hal astral, muncul ragam persepsi. Hal mistis tidak lagi direspon dengan rasa takut. Bahkan kadang rasa takut kalah dominan dengan gelitik tawa, heran, bahkan denial.

 

Pada program kineforum kali ini, yang merupakan praktik hasil Kineforum Punya Kelas: Programming Film bulan Oktober 2019, kami menyajikan sekelompok film dengan semangat merayakan pernik klenik itu. Ya, bukan lagi ketakutan atau menakuti seperti biasanya horor, kami mengajak mengamati fenomena itu dengan asyik, dan syukur-syukur mengeksplorasi. Ada yang menjajaki sulap sebagai jalan pintas segala masalah, ada yang dengan pesugihan dengan segala konsekuensinya, ada juga yang kleniknya hanya menyerempet, tapi cukup menggambarkan bagaimana situasi bisa mendesak orang untuk percaya pada yang supranatural. 

 

Mungkin pada akhirnya keterbatasan kita memang tak terelakkan, dan manusia sungguh perlu untuk percaya pada sesuatu yang melampaui kita semua. Tak apa. Yang penting, tak usah takut. Sampai jumpa di pemutaran kami!

Igfeed - Jadwal Pernik Klenik .jpg

FFI SELECTED SHORTS

Film cerita pendek, atau kerap disebut film pendek saja, perkembangannya tak bisa dipandang sebelah mata. Selain peminatnya yang semakin ramai, banyak sineas film pendek Indonesia yang unjuk kebolehan dalam berkreasi, bahkan menembus ajang atau festival film internasional. Film pendek memiliki keunikan, yakni dalam cara bertutur dan menyampaikan pesan dalam durasi yang relatif lebih singkat dibanding film cerita panjang. Sineas ditantang memanfaatkan media yang singkat itu untuk berkomunikasi secara efektif dengan penonton menggunakan bahasa dan teknik film. Untuk itulah, film pendek seharusnya diapresiasi layaknya film panjang. Festival Film Indonesia, yang setiap tahunnya menganugerahkan Piala Citra kepada para insan perfilman menjadi salah satu showcase film pendek terbaik Indonesia. Saksikanlah 6 film pendek pilihan Kineforum, film-film pendek yang berlaga dalam tahap seleksi dan nominasi ajang supremasi sinema Indonesia. Yang singkat, padat, namun berbobot. Layaknya hidangan, sedikit namun mengenyangkan.

Copyright © 2017 / kineforum

‚Äč

Taman Ismail Marzuki
(Belakang Galeri Cipta 3)
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330
Indonesia

Program dari

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon