Makanan konon tak sekadar pengenyang perut, namun bisa juga jadi pelipur hati. Benarkah? Aruna, Bono, Nadezhda dan Farish coba membuktikannya.

Gabungan dari beberapa kisah kaleidoskopik beberapa karakter, menggambarkan harapan dan obsesi soal kehidupan minoritas di Indonesia pasca 1998.

Seorang penjual jamu diperkosa tiga berandal. Waktu berlalu tanpa keadilan dan kejelasan. Diteror perasaan bersalah, ketiganya saling membunuh.

Setelah peristiwa G30S, kehidupan bernegara tak kunjung membaik. Mahasiswa dan berbagai elemen massa turun ke jalan. Sebuah era baru dimulai

Pasca peristiwa 27 Juli 1996, Wiji Thukul dan beberapa aktivis diburu rezim Orde baru. Film ini mengisahkan hari-hari persembunyiannya yang senyap, namun ia tak tinggal diam.

Seorang aktivis buruh dibunuh karena menuntut kenaikan upah. Pembunuhnya tak pernah terungkap dan beberapa orang tak bersalah harus dipenjara. Sebuah tragedi hukum.

Mat Peci memilih jalan kekerasan dan kriminal di hadapan sebuah negara yang lebih mampu lagi untuk berbuat keras atas semua subjeknya.

Demi tradisi dan rasa kewajiban, Srinthil dan Rasus berpisah jalan. Namun takdir sejarah mempertemukan mereka lagi dalam situasi yang menyakitkan.

Di kampusnya dan di kehidupan sekitarnya, Soni menyaksikan terlalu banyak ketidakadilan. Emosinya tertuang dalam puisi dan cinta. Tapi apakah itu saja cukup?

Bincang santai untuk mengintip apa yang menjadi concern, ditakutkan, diajarkan dan dinormalkan melalui film era Orde Baru, sekaligus mengintip beberapa film yang mencoba bertanya lebih.

Please reload

Featured Posts

Kineforum punya Kelas | Wardrobe

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Copyright © 2017 / kineforum

Taman Ismail Marzuki
(Belakang Galeri Cipta 3)
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330
Indonesia

Program dari

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon