Bulan Film Nasional 2020

⁣Setiap bulan film nasional dirayakan maka setiap itu juga peninjauan akan film indonesia kembali ditengok secara khusus. Seperti layaknya evaluasi, ada yang bertumbuh menjadi baik, tak beranjak, bahkan berjalan mundur. Ada beberapa alasan kita perlu bergembira dan menatap dengan penuh keoptimisan. Secara statistik, jumlah penonton film Indonesia meningkat. Secara genre, film Indonesia makin percaya diri untuk maju dengan beragam gaya dan penuturan. Lepas daripada hal-hal positif yang kita dapatkan, pekerjaan rumah kita masih besar dan menantang.

 

Beragam kontroversi muncul dalam perjalanan film Indonesia setahun lalu. Ada film yang dipermasalahkan bahkan sebelum film tersebut tayang, belum ditonton, dan tanpa mengetahui esensinya. Film Terbaik Festival Film Indonesia 2019, Kucumbu Tubuh Indahku, misalnya. Kontroversi yang menyertainya membuat kita tersentak sadar bahwa masyarakat Indonesia—suka tak suka, tempat di mana kita lahir, tumbuh dan hidup—sedang berada di persimpangan jalan, dalam banyak lapisan: konservatif versus liberal, chauvinisme versus humanisme, keadilan versus kompromi, pemberdayaan versus penindasan, maju versus mundur, memperluas wawasan versus mencupetkan diri, dsb. Dan sedihnya, banyak perkembangan dalam kehidupan nyata yang tidak menggembirakan. Maka ketika FFI 2019 memenangkan Kucumbu Tubuh Indahku, sikap tersebut terasa sebagai sikap pembangkangan. Pembangkangan yang perlu diapresiasi.

 

Beragam peristiwa kemudian coba kita hadirkan (kembali) dalam rangkaian Bulan Film Nasional. Dua topik besar yang coba kami sampaikan ke penonton adalah bagaimana masih ada ketabuan dan juga pembatasan serta larangan dalam hidup di alam dan dalam masyarakat Indonesia. Dua program ini kami beri tajuk Tabu dan Limbo. Kami juga menampilkan kompilasi film pendek yang tak kalah seru untuk membahas hal serupa. Beberapa di antaranya bahkan masuk dalam radar Festival Film Indonesia tahun 2019 yang lalu.

 

Selain itu, kami juga menghadirkan beberapa film yang sudah direstorasi dengan penuh dan bisa dapat kita nikmati kembali. Menengok kembali perjalanan kita lewat film-film tersebut bisa menjadi pijakan awal sudah sejauh mana kita maju atau mundur sembari membentuk lagi percakapan perihal sinema Indonesia. Terakhir, kami menayangkan kembali karya-karya dari kedua kawan kami, Abduh Aziz dan Ria Irawan yang sudah berpulang lebih dulu.

 

Bulan Film Nasional tahun ini terasa sangat istimewa karena kami merayakannya secara bersama-sama, kawan-kawan pemutar film berbagai kota di Indonesia. Semoga semangat ini terus dijaga, bertumbuh, semakin bergelora dan dengan harapan tidak berhenti dalam perayaan Bulan Film Nasional tapi juga berlangsung terus karena film Indonesia sudah sepatutnya dirayakan setiap saat.

Maret2020_BFN_Teaser-.jpg

Copyright © 2017 / kineforum

Taman Ismail Marzuki
(Belakang Galeri Cipta 3)
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330
Indonesia

Program dari

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon