Marni: Petrus, Matius, dan yang Luput di Antaranya


Artikel ini disalin dari Cinema Poetica.

Marni sempat hadir di layar kineforum dalam program Arus Bawah (3-16 April 2017).

Marni (Kuntz Agus, 2010)

Film pendek Marni karya Kuntz Agus penting untuk ditonton. Karya berdurasi 23 menit ini mengangkat isu penembak misterius (“petrus”), satu isu yang belum pernah diangkat dalam wacana sinema sejarah kita. Satu-satunya “sejarah alternatif” Orde Baru yang hingga kini masih dirayakan adalah sejarah periode 1965-66. Padahal, operasi yang membunuh ribuan korban di tahun 1980an ini, meskipun skalanya lebih kecil, punya signifikansi politik yang tidak kalah pentingnya dengan peristiwa 1965-66. Jika pembantaian dan pemenjaraan massal pada tahun 65-66 merupakan usaha sistematis untuk mendirikan satu rezim baru dan memutus warisan rezim sebelumnya, maka Operasi Clurit (demikian sandi operasi para petrus) dilancarkan untuk mendisiplinkan populasi. Yang disasar petrus adalah mereka yang dianggap bromocorah, preman, atau lebih tepatnya, siapapun yang bertato dan terlihat seperti penjahat. Maka dengan alasan memberantas kriminal, negara menunjukkan bahwa ia berkuasa menentukan hidup-matinya seseorang.

Tidak hanya itu, dalam catatan antropolog James Siegel (New Criminal Type: Counter-Revolutionary Today, 1998), mayat bertato (yang juga disebut “matius”, mayat misterius) dibuang di jalan-jalan agar ditonton khalayak, yang kemudian merasa jijik dan mendiasosiasikan diri dari atribut apapun yang melekat pada korban (khususnya tato). Pesannya: siapapun yang tidak ikut kami sederajat dengan gali dan pantas ditembak. Tidak heran, kebanyakan ikut negara. Ada partisipasi kolektif dalam teror, sekalipun cukup ditunjukkan dengan diam. Ada pula moralitas baru yang dibangun dan disambut.

Marni lebih tertarik mengangkat Operasi Clurit dalam kaitannya dengan kehidupan rumah tangga. Marjuki, suami Marni, adalah calon korban yang sempurna. Ia mantan narapidana (meski hanya dua bulan dibui) dan bertato. Sehari-harinya, Marni menyembunyikan Marjuki dalam kamar rahasia di balik lemari. Rupanya negara sudah punya daftar buruan yang tak bisa diganggu gugat. Akhirnya mudah ditebak: setelah sang istri diintimidasi dan satu-dua perlawanan kecil, Marjuki roboh diterjang timah panas.

Ketakutan-ket