Kineforum punya Kelas | Sound for Pictures


23-24 Juli 2020

14:00-16:00 WIB

Kelas diselenggarakan secara offline di Fourmix #JFS dan online melalui Zoom i

Di sebuah medium yang memanjakan mata, aspek “audio” dari “audio-visual” seringkali terlupakan. Konten, dari vlog sampai film blockbuster, kita tonton dengan harapan mata terpuaskan. Sementara telinga juga ikut andil, tapi hanya kentara jika ada yang salah. Jika benar, kita menikmatinya begitu saja.

Pembuat konten audio-visual perlu mempelajari lebih dalam cara memproduksi pengalaman suara yang baik bagi pemirsanya. Sekali lagi, tak terkecuali dari vlog hingga film berbujet raksasa. Atau minimal tips dan trik menyajikan pengalaman sound yang apik bagi penikmat konten.


Kineforum mengadakan kelas lagi, kali ini dengan topik “Sound for Pictures”, bersama dua pemateri kawakan dalam bidang sound production dan post-production, yaitu 𝗜𝗰𝗵𝘀𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗰𝗵𝗺𝗮𝗱𝗶𝘁𝘁𝗮 dan 𝗦𝗮𝘁𝗿𝗶𝗼 𝗕𝘂𝗱𝗶𝗼𝗻𝗼.

Kineforum Punya Kelas kali ini diadakan dengan metode yang unik. Di satu sisi kami sadar bahwa pandemi masih jauh dari usai, terlepas dari sikap resmi apapun mengenainya. Di sisi lain, kami juga sadar bahwa pengalaman dengan sound juga unik: ia tak akan tertransfer sempurna melalui medium online. Maka dari itu kami membuka kelas dalam dua bentuk: 𝗼𝗳𝗳𝗹𝗶𝗻𝗲 (slot sangat terbatas dengan protokol ketat) untuk mengalami langsung di tempatnya, dan 𝗼𝗻𝗹𝗶𝗻𝗲 untuk yang ingin menjalani tour studio, menambah ilmu, atau sedang berhalangan karena berada di kota lain atau sebab lainnya.


Kineforum punya kelas akan diselenggarakan pada:


Tanggal 23-24 Juli 2020 secara online melalui ZOOM dan offline secara langsung yang diadakan di Fourmix @ JFS, Jl. Raya Ceger No.1, RT.5/RW.1, Ceger, Kec. Cipayung, Jakarta Timur.



Informasi Keikutsertaan:

1. Pendaftaran dibuka hingga 20 Juli 2020

2. Terbuka untuk umum

3. Bersedia mengikuti kelas selama durasi dua hari, masing-masing +/- 3 jam

4. Setiap peserta diwajibkan membayar biaya pendaftaran melalui rekening: Bank OCBC NISP 545810233621

a/n Poetra Rizky Harindra


Setelah mengisi form ini dan melakukan pengiriman donasi melalui rekening, mohon melakukan konfirmasi dengan menghubungi 082112605136 (Devi) via Whats App / SMS.


Setiap peserta akan memperoleh e-certificate, yang akan kami bagikan secara online melalui email.



DAFTAR DI SINI



Keliek Wicaksono

Freelance 3D Generalist & VFX artist


Mengawali karir animasi 3D ketika mengajar di lab komputer Arsitektur Gadjah Mada, dan sebagai founder Studio Kasatmata di 2002.


Bekerja untuk iklan TV sejak 2006, sebagai generalist 3D artist dan compositor. Terlibat di beberapa proyek iklan, motion graphics, dan film. Terakhir terlibat sebagai VFX supervisor di film Wiro Sableng (2018), Terlalu Tampan (2019), Mantan Manten (2019), VFX coordinator di film Ratu Ilmu Hitam (2019), dan VFX supervisor Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)


Beberapa penghargaan :

Konfiden Award 2002 - Best Short Animation

Visi Anak Bangsa Award 2003 - Production Support for Homeland, 3D Animation.

Pinasthika Award 2010 - Bronze for Craftmanship

Piala Maya 2012 - VFX terbaik - film Ambilkan Bulan

Piala Maya 2018 - VFX terbaik - film Wiro Sableng

Piala Citra 2018 - Penata Efek Visual Terbaik - film Wiro Sableng



PENGISI MATERI

Gaga Nugraha Ramadhan

Memulai kariernya sejak 2004 sebagai CG Artist Didunia Periklanan hingga akhirnya memutuskan untuk memulai studionya sendiri di tahun 2008. Gaga Nugraha telah terlibat dalam pembuatan ratusan iklan televisi dalam dan luar negeri, dan telah dipercaya menjadi VFX Supervisor di beberapa Film Indonesia seperti:

Serdadu kumbang (2011)

Soegija (2012)

Leher angsa (2013)

Jenderal Soedirman (2015)

Wiro Sableng (2018)

Dreadout (2019)

Hit and Run (2019)

Ratu Ilmu Hitam (2019)

NKCTHI (2020)


Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia memulai karirnya di dunia perfilman sebagai Produser dan Sutradara beberapa film pendek, antara lain Be Quiet, Exam is in Progress (Tokyo ShortShort Competition, 2006) dan Half Teaspoon (Grand Prize Hong Kong Independent Film Video Award & competition, IFFR 2008). Pada tahun 2001, ia mendirikan perusahaannya Fourcolours Films dengan beberapa filmmaker lokal untuk memproduseri dan mendukung filmmaker Indonesia. Pada tahun 2006, Ifa terpilih oleh Asian Film Academy Busan dan memeroleh beasiswa ke Im Kwon Taek College of Film & Performing Arts, korea. Saat kembali ke Indonesia, Ifa menyutradarai film panjang pertamanya, Garuda Di Dadaku (2009), yang mendulang sukses besar secara komersial. Film keduanya, The Dancer (2011) dianugerahi Best Director dan Best Picture di Festival Film Indonesia. Saat ini ia telah memproduseri Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015), Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Indonesian Official Entry for Oscar 2018), The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto IFF 2017) dan Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzonti 2018). Ifa juga merupakan pendiri Jogja-Netpac Asian Film Festival yang dimulai pada tahun 2006 serta pendiri Jogja Film Academy, yang didirikan pada tahun 2014.



Sheila Timothy


Sebelum memasuki perfilman, Sheila Timothy telah lama berkecimpung bisnis periklanan dan musik. Film panjang pertamanya, Pintu Terlarang terbit pada 2009 dan memenangkan penghargaan film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival. Pada 2012, film keduanya Modus Anomali memenangkan Penghargaan Bucheon di Jaringan ke-4 Film Fantastis Asia di Korea Selatan dan ditayangkan perdana di South by Southwest Film Festival (SXSW) pada Maret 2012. Fitur ketiganya, Tabula Rasa, dirilis pada September 2014 dan menerima 4 penghargaan di Festival Film Indonesia 2014. Pada 2018, rumah produksinya yang didirikan sejak 2008, Lifelike Pictures, bekerjasama dengan 20th Century Fox untuk memproduksi dan merilis film aksi-fantasi Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Sheila terpilih sebagai ketua pertama Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), dari 2013 hingga 2016. Dia kemudian duduk sebagai anggota dewan penasihat untuk APROFI sampai sekarang.