top of page

“Dasar anak muda tidak tahu diuntung!” 

 

Omelan itu, dengan pilihan kosakatanya, mungkin familiar terdengar bagi yang mengalami masa mudanya di era 1970-an dan 1980-an. Lantas yang lebih universal, “Dasar anak muda jaman sekarang!”  sampai yang spesifik sekarang, “Anak milenial manja-manja!”, dan berbagai variasinya.

​

Sepertinya sudah jadi kebiasaan tiap jaman, orang dewasa memandang rendah karakteristik anak mudanya, dengan segala karakteristik yang dianggap tidak cocok dengan etiket jaman itu. Dengan fenomena berulang seperti ini, mungkin tidak heran prospek “menjadi dewasa” menjadi tidak menarik. Membosankan, kompromistis, dan sebagainya. Tetapi nyatanya kita semua, mau tidak mau, akan memasuki fase dituntut dewasa, ketika mencapai usia tertentu. Ada yang tarik menarik di sini: sepertinya ada manfaat plus menjadi dewasa, tapi minusnya bikin jeri juga. Atau… jangan-jangan semua yang kita benci dari kedewasaan sesungguhnya bukan dewasa, tetapi “tua”?

 

Banyak definisi tekstual dan tertulis tentang menjadi dewasa, tetapi bagi tiap orang, makna dan rasanya berbeda-beda. Sayangnya, ini bukan topik yang mudah dibicarakan dari hati ke hati, apalagi justru (ironisnya) ke orang terdekat: ada ketakutan dan kekhawatiran tentang persepsi kedewasaan. Ada sesuatu dalam diri yang merasa bahwa orang lain butuh kita lebih dewasa, sehingga mengakui kurangnya kita di situ menjadi sesuatu yang memalukan.

​

Sebagai bagian dari program “Kawah Candradimuka” kineforum di Januari 2018 ini, kami mengajak Anda untuk mengikuti diskusi yang bukan sekadar diskusi, tetapi juga berbagi. Setiap orang —ya, Anda semua— adalah narasumber dalam proses pertukaran gagasan ini. Kekayaan diskusi ini bertumpu pada kekayaan pengalaman dan pandangan tiap peserta, dan tentunya kesediaan berbagi. Jadi, mari 'buka-bukaan' kepada teman baru (you got nothing to lose!), dalam sesi berbagi dan bersaran: apa artinya, dan apa gunanya menjadi dewasa.

​

​

Fasilitator

RIVAL AHMAD

Rival turut mendirikan Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia pada akhir 90an, dan menjadi peneliti di lembaga yang fokus pada pembaruan hukum tersebut hingga kini. Ia juga menjadi dosen luar biasa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia mulai 2004-2011, dan ikut merintis pendirian Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera pada 2011. Rival menekuni juga kerja sebagai perancang peraturan dan fasilitator, selain sebagai dosen matakuliah Hukum dalam Masyarakat dan Ilmu Perundang-undangan di Jentera.

bottom of page