Boy

Boy adalah seorang bocah pemimpi. Dalam ingatannya, ayahnya adalah orang hebat: penyelam, pahlawan perang, dan kenal dekat dengan Michael Jackson! Ketika "sang pahlawan" pulang setelah 7 tahun menghilang, Boy kesulitan menerima bahwa ayah dalam memorinya sama sekali berbeda dengan sosok di hadapannya. Melalui proses ini pula, Boy belajar menemukan potensi dirinya dan bahwa dia adalah pahlawan bagi dirinya sendiri.

 

Sutradara humoris Taika Waititi asal New Zealand awalnya dikenal dari beberapa karya film pendeknya yang sudah melanglang buana. Sebut saja Two Cars, One Night yang sempat menerima nominasi Academy Awards (OSCAR) tahun 2014 dalam kategori film pendek terbaik. Baru-baru ini (2017), dia mendapatkan kesempatan untuk menyutradari film pahlawan-super Thor: Ragnarok. Walaupun kiprahnya kurang terdengar di Indonesia, dua film panjangnya Boy (2010) and Hunt for the Wilderpeople (2016) berhasil meraih penjualan tertinggi di negara asalnya.

 

Boy, yang kami hadirkan sebagai film pembuka tahun dalam program kineforum Kawah Candradimuka, digodoknya selama lebih dari 3 tahun. Diputar perdana di Sundance Film Festival 2010 dan menerima nominasi & penghargaan dari berbagai festival film internasional, termasuk Grand Prix Best Picture Film Generation K Plus (Deutsches Kinderhilfswerk Grand Prix) dari Berlin International Film Festival 2010.

 

Menurut sutradaranya, film ini terinspirasi dari kenangan nyata dan imajinasi. Pengambilan gambarnya dilakukan di Teluk Waihau di mana Waititi menghabiskan masa kecilnya. Setting waktu dalam film ini juga mengambil periode yang sama dengan masa kecil sutradaranya --Waititi lahir tahun 1975 dan karakter utama film ini lahir tahun 1973.

 

Karya yang intim dan personal ini adalah sebuah film yang menyenangkan sekaligus menyentuh. Seperti terwakili dalam pernyataan sutradara berikut:

 

"Part of what makes this film distinct is the humour; I want to explore the painful comedy of growing up and interpreting the world. I believe that despite our faults and inadequacies, through all pain and heartache, there is still room to laugh. I think that’s what makes my films different, the feeling that although there is often darkness, there are also little bits of light to encourage hope and hold on to possibility."

 

Sutradara Taika Waititi | Pemeran James Rolleston, Te Aho Eketone-Whitu, Taika Waititi | Tahun 2010 | Durasi 97 menit | Jenis Fiksi | Negara New Zealand | Bahasa Inggris, Maori | Subteks Bahasa Inggris | Format Digital | Klasifikasi Usia 12DO

 

Pemutaran ini terselenggara berkat dukungan dari New Zealand Film Commission.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload

Copyright © 2017 / kineforum

Taman Ismail Marzuki
(Belakang Galeri Cipta 3)
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330
Indonesia

Program dari

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon