Galih dan Ratna

Selasa, 16 JAN, 19:30

Sabtu, 20 JAN, 19:30

 

Donasi Rp20.000

Ratna baru saja pindah —tepatnya mungkin dibuang— ke Bogor. Di sana, ia menemukan cintanya pada Galih, seorang geek pecinta musik yang ngotot mempertahankan toko kaset almarhum ayahnya yang terus merugi. Semesta berkomplot untuk memaksa mereka kompromi, mulai dari sekolah mereka yang kolot dan konservatif, ayah Ratna dan ibu Galih yang pragmatis, dan mungkin juga terlanjur memandang hidup dengan pahit. Tetapi seharusnya tidak dengan mereka, bukan? Cinta, impian, idealisme, seharusnya bisa ditopang dengan perjuangan, bukan? Apa harga yang harus dibayar atas sebuah impian dan cinta?

 

Nama karakternya sendiri —Galih dan Ratna— telah cukup ikonik dalam memori budaya pop Indonesia. Film ini merupakan remake dari film Gita Cinta di SMA (1979) sekaligus adaptasi dari novel karya Eddy Iskandar. Film ini dipandang berhasil menghadirkan kisah cinta klasik yang sederhana dengan kesadaran kontemporer yang kuat. Memenangi gelar Sutradara Terpuji di Bandung Film Festival 2017 dan Skenario Terbaik di kompetisi Indonesian Screen Awards dalam ajang Jogja-NETPAC Asia Film Festival 2017. Dinominasikan untuk 5 kategori dalam Festival Film Indonesia 2017.

--

Ratna has just moved —which felt like banished— to Bogor. There, she found her love on Galih, a music loving geek struggling to keep his late father’s record store alive, even though nobody listens to cassettes recording anymore. The universe seems conspiring to break them, or at least forcing them to compromise. Their conservative and prison-like school discourages their side activities, and their pragmatic —and also probably bittered— parents always questions and challenged their dreams. But surely, love and dreams can be won through determination and hard work, can’t it? What is the price one must pay for a dream?

 

The eponymous characters —Galih and Ratna— were iconic enough in the memory of Indonesia’s pop culture. This film is a remake from Gita Cinta di SMA (1979) which in turn was an adaptation from a pop novel by Eddy Iskandar. Critics found Galih dan Ratna succeeded in injecting new life into a classic pop icon and simple love story with a strong dose of contemporary awareness. The film won Best Director in Bandung Film Festival 2017 and Best Screenplay in Indonesian Screen Awards competition section as part of Jogja-NETPAC Asia Film Festival 2017. Nominated for 5 categories in 2017 Indonesian Film Festival.

 

Sutradara Lucky Kuswandi | Pemeran Refal Hady, Sheryl Sheinafia | Tahun 2017 | Durasi 112 menit | Jenis Fiksi | Negara Indonesia | Bahasa Indonesia | Format Digital | Klasifikasi Usia 15+

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload