Mencari Hilal

Sabtu, 26 MEI, 16:00
Donasi Rp20.000

Di benak Pak Mahmud (60), tak ada yang lebih mulia selain tulus berjuang menerapkan perintah Islam secara kaffah dalam semua aspek hidup. Bertahun-tahun lamanya Mahmud berdakwah agar setiap orang percaya bahwa Islam adalah satu-satunya solusi semua persoalan hidup. Suatu hari, semangat Mahmud tercederai saat mendengar isu sidang Isbat Kementrian Agama yang menelan dana sembilan milyar untuk menentukan hilal sebagai penanda akhir Ramadan. Realita itu membuatnya teringat lagi tradisi mencari hilal yang dilakukan pesantrennya dulu. Sebuah tradisi yang tak berjalan lagi sejak pesantrennya bubar puluhan tahun lalu. Mahmud ingin mengulang tradisi itu untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ibadah tidak dibuat untuk memperkaya diri. Hilal bisa ditemukan tanpa harus menelan biaya milyaran. Namun untuk niat itu, Mahmud hanya bisa melakukannya jika ditemani Heli, anak bungsunya yang sejak lama pergi dari rumah karena selalu bertentangan dengannya. Perjalanan ini, dengan menyaksikan bagaimana nilai agama digunakan dan disalahgunakan di masyarakat, akan menjadi saksi perjalanan spiritual mereka berdua.

 

For Mr. Mahmud, an elderly and honest shop owner, nothing’s more virtuous than enacting Islamic virtues on every single aspects of life. He has dedicated his life to prove that Islam is THE answer. One day, he felt betrayed when the government’s official religious body held a luxurious and expensive conference just to set the date of end of Ramadan. He’s reminded back in the days when his “pesantren” (Islamic boarding school) collectively and ceremoniously looking for “hilal”, the crescent moon marking the end of a month. Mahmud is determined to trace his methods. But his health forbids him from doing so, and can only be done with his son’s Heli’s company. The problem is that Heli had for long estranged from him and had even abandoned religious values. The journey, while witnessing how religious values are used and abused in the society, will become their testament of respective faith and past mistakes.

 

 

Sutradara Ismail Basbeth | Pemeran Deddy Soetomo, Oka Antara | Tahun 2015 | Durasi 94 menit | Jenis Fiksi | Negara Indonesia | Bahasa Indonesia | Format Digital | Klasifikasi Usia 15+

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload

Copyright © 2017 / kineforum

Taman Ismail Marzuki
(Belakang Galeri Cipta 3)
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330
Indonesia

Program dari

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon