Para Perintis Kemerdekaan

Senin, 9 APR, 19:30
Jumat, 20 APR, 19:30

 

Donasi Rp20.000

Penangkapan Haji Jalaluddin saat berkhotbah, membekas di hati Hamid dan Halimah, para pengikutnya. Dengan latar belakang masing-masing yang bisa dilacak ke problem penindasan struktural, mereka memutuskan melawan. Hamid dan Halimah menemui jalan berliku mengorganisir diri dan lingkungan mereka demi memutus rantai penindasan itu. Film ini merupakan adaptasi longgar Asrul Sani dari novel Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dipadu dengan pemikiran Hamka lewat tulisan lainnya, berikut modernisme Asrul Sani sendiri, yang menjadikan Halimah sebagai salah satu tokoh perempuan paling progresif dalam sejarah film Indonesia.

 

The arrest of Haji Jalaluddin in the middle of his sermon struck deep into Hamid and Halimah’s hearts. It sparked their resentment, already fueled by their respective marginalized background, and launched them into a consolidation to resist the authority. The film is Asrul Sani’s loose adaptation on Hamka’s phenomenal novel, Di Bawah Lindungan Ka’bah (Under the Protection of Ka’bah), mixed with Hamka’s other thoughts through his other writings, as well as Asrul Sani’s own modernism. The film prominently portrays Halimah as one of the most progressive woman character in Indonesian film history.

 

 

Sutradara Asrul Sani | Pemeran Cok Simbara, Rendra Karno, Camelia Malik | Tahun 1977 | Durasi 123 menit | Jenis Fiksi | Negara Indonesia | Bahasa Indonesia | Format Digital | Klasifikasi Usia 12DO

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload