Alteraksi #1

Alteraksi adalah program putar-dialog film yang memberi ruang pada penyerbukan gagasan dan perasaan melalui kombinasi proses apresiasi film, penyulingan ide dan intuisi, pertukaran pandangan, dan refleksi bersama. Merupakan program Besiberani—inisiatif interferensi sosial melalui medium film—Alteraksi hendak melahirkan perspektif dan aksi baru atas dinamika hidup sehari-hari.

 

NONTON FILM

Edisi perdana Alteraksi menghadirkan tiga film. Ketiganya merupakan karya adaptasi—mulai dari dongeng klasik, novel, sampai biografi—yang akan menantang pikiran, mengaduk emosi, dan memancing obrolan bersama.

 

DIALOG

Ngobrol dengan narasumber pilihan tentang konten film dan hubungannya dengan keseharian kita. Curahkan apresiasi, pandangan, dan refleksimu dalam dialog yang setara.

 

TUKAR PANDANG

Sampaikan pikiranmu, dengarkan pandangan orang lain, refleksikan bersama-sama. Dipandu fasilitator, kamu akan berinteraksi dalam rangkaian permainan tentang “hidup dalam film” dan “film dalam hidup”. Refleksikan percikan ide yang muncul, aktualisasikan dalam keseharian.

 

LONTAR SUARA

Selesai menonton film, kami akan menyodorkan pertanyaan kejutan. Tuliskan jawabanmu dalam kartu komentar. Lontarkan suaramu kepada kawan-kawan menontonmu, sebarkan melalui media sosial.

The Flowers of War // 金陵十三钗 (Jin ling shi san chai)

Zhang Yimou, 2011, 146 menit

Senin, 6 Agustus 2018, 17:00 (+Lontar Suara)

 

Seorang perias jenazah nekat melintasi medan perang demi sebuah pekerjaan. Seorang gadis asrama menolak untuk mengungsi tanpa kawan-kawannya. Duabelas orang perempuan penghibur hanya ingin bersembunyi, menunggu perang reda. Di dalam satu gereja megah, keinginan, ketakutan, dan hati nurani mereka dipaksa bertarung untuk menghadapi situasi luar biasa itu. Melalui pergulatan batin itu mereka menemukan kebersamaan.

 

Perang jelas tidak ada gunanya. Namun, justru pada masa krisis semacam itulah—ketika persoalan hidup dan mati terus mengintai dari segala penjuru, sama sekali tak menyisakan tempat untuk ketenangan hati dan pikiran—manusia menunjukkan karakter sesungguhnya. The Flowers of War adalah karya adaptasi dari novela yang terinspirasi buku harian seorang misionaris yang bertugas di Nanking pada periode Perang Sino-Jepang kedua. Para tokoh dalam cerita ini bisa dianggap fiksi. Namun, dunia tempat mereka hidup adalah nyata. Ini adalah kisah orang-orang yang melalui pergulatan batin—kehendak bertahan hidup dan pentingnya untuk tetap menjadi manusia.
 

 

Hidden Figures

Theodore Melfi, 2016, 127 menit

Selasa, 7 Agustus 2018, 15:00 (+ Tukar Pandang)

Rabu, 8 Agustus 2018, 19:00 (+ Lontar Suara)

 

Tahun 1961. Pada masa itu, orang kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat hidup terpisah. Masing-masing harus memakai WC, tempat duduk di bus, bahkan poci kopi yang berbeda. Semua mesti berada di tempatnya masing-masing. Tanpa diketahui publik, tiga perempuan dari latar yang tak biasa, yang tak dianggap karena warna kulit mereka, unjuk diri menyukseskan peluncuran astronot ke luar angkasa. Mereka mengubah pandangan dan perilaku orang, selangkah demi selangkah.

 

Hidden Figures adalah film fiksi berbasis biografi. Kisah berdasarkan kehidupan nyata ini membuktikan bahwa kecerdasan, kegigihan, dan ketetapan hati tak bisa dihalang-halangi. Boleh jadi, ini kisah masa lalu, jauh di belahan dunia lain. Namun, diskriminasi masih terjadi hingga hari ini. Ada baiknya kita mengambil jeda, melihat dan memikirkan kembali bagaimana perlakuan kita selama ini terhadap sesama, di manapun kita berada.

 

 

The King and the Mockingbird // Le roi et l'oiseau

Paul Grimault, 1952, 81 menit

Senin, 6 Agustus 2018, 13:00 (+ Dialog) | Acara khusus Sekolah Kembang

Rabu, 8 Agustus 2018, 16:00 (+ Dialog) | bersama Akademi Samali

 

Seorang raja zalim menganggap dirinya lebih hebat dari makhluk lain. Banyak yang bisa dia pamerkan: istana megah, koleksi seni, fasilitas berteknologi mutakhir, termasuk ruang rahasia. Semua keinginannya selalu dipenuhi. Tak ada yang berani melawan perintahnya. Satu-satunya suara sumbang justru datang dari seekor burung yang berisik dan berani melontarkan kritik sepedas-pedasnya.

 

Animasi klasik Prancis karya Paul Grimault ini telah menginspirasi banyak animator untuk terus mengeksplorasi cara bertutur lewat media gambar bergerak. Bahkan Hayao Miyazaki dan Isao Takahata—para tokoh utama Studio Ghibli—mengakui bahwa film ini sangat mempengaruhi karya-karya mereka. The King and the Mockingbird adalah sebuat adaptasi dari dongeng Hans Christian Andersen. Dengan segala rintangan, butuh 30 tahun untuk menyelesaikan film ini. Hasilnya adalah sebuah adikarya yang bertahan melampaui zaman dan waktu.

Edisi perdana dari program Alteraksi terlaksana terutama dengan dukungan kineforum juga para mitra penyelenggara lainnya: Institut Français Indonésie, Sekolah Kembang dan Akademi Samali.

 

Donasi Rp20.000

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload