Film Eliana, Eliana (2002): Perempuan yang Menolak Tunduk

Artikel ini disalin dari Studio Tumbuh.

Eliana, Eliana hadir di layar kineforum dalam program Kawah Candradimuka (11-24 Januari 2018).

Melihat program kineforum di awal tahun 2018 dengan tajuk “Kawah Candradimuka” membuat saya tak sabar menonton salah satu filmnya yang berjudul Eliana, Eliana (2002). Film garapan sutradara top Riri Riza itu berada pada sub program “Adikarya Masa” di mana dalam cuplikan pengantarnya berbunyi, “Seksi program ini menyajikan film-film sebagai karya seni, baik sebagai karya luar biasa, atau pendobrak di masanya”. Dan mungkin salah satu yang dimaksud “pendobrak pada masanya” adalah film Eliana, Eliana ini. Film Eliana, Eliana sendiri kerap disebut sebagai salah satu penanda bangkitnya perfilman nasional. Tentunya film ini akan sulit kita temukan lagi, kalau bukan di pemutaran-pemutaran alternatif seperti di KINEFORUM ini.

 

Film Eliana, Eliana berkisah tentang seorang gadis bernama Eliana (Rachel Maryam Sayidina) yang kabur dari rumahnya di Padang menuju ibukota Jakarta karena ogah dijodohkan. Prolog film ini memang nampak klise dalam narasi film-film kita. Namun cerita menjadi menarik saat sang Bunda (Jajang C. Noer) menyusul Eliana ke Jakarta. Mereka berdua menghabiskan waktu semalaman menggunakan taksi menyusuri jalan-jalan Jakarta. Perjalanan itulah yang memberi keduanya waktu untuk lebih mengenal diri masing-masing.

 

Official poster film "Eliana, Eliana" produksi iSinema,

Prima Entertainment dan Miles Films

(Sumber: milesfilms.net)

 

 

Apabila menilik dari sejarah, 2002 merupakan empat tahun pasca momentum peralihan Orde Baru ke reformasi. Film nasional kala itu digambarkan masih pada masa kelamnya. Belum selesai dengan sisa-sisa represif Orde Baru terhadap segala bentuk kesenian. Berturut-turut film nasional harus "dihajar” oleh berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi global, menurunnya harga minyak, utang yang kian membengkak, terpuruknya nilai rupiah, mulai masuknya berbagai produk hiburan dari luar negeri, monopoli bioskop oleh group Subentra, hingga pukulan keras saat muncul dan menjamurnya stasiun televisi nasional. Berbagai kesulitan tersebut tak pelak membuat bioskop di berbagai daerah gulung tikar. Perhatian masyarakat mulai bergeser pada hiburan-hiburan luar negeri atau yang mereka peroleh dari televisi. Keadaan sulit tersebut dirasakan hingga ke generasi Riri Riza. Sangat bisa dipahami, meski telah meninggalkan Orde Baru, kala itu gairah akan berfilm masih lesu. Rasa-rasanya memikirkan untuk kebutuhan hidup saja masih sulit, bagaimana mau berfilm?

 

Melalui film Eliana, Eliana inilah Riri seakan ingin menyemangati dan menantang kaum muda untuk kembali berfilm. Setelah musuh besar bersama ditumbangkan dari tampuk kekuasaan, rasanya Riri tidak puas kalau kaum muda hanya sebatas “bagaimana agar besok bisa makan?”. Meski film ini tidak secara spesifik membahas tentang dunia film, namun Riri seolah menjadikan tokoh Eliana sebagai representasi dari kaum muda Indonesia saat itu. Penuh ambisi, namun harus menghadapi rintangan yang datangnya bukan lagi dari penguasa, tetapi dari budaya, keluarga, lingkungan, bahkan diri sendiri. Tidak dijelaskan pula mimpi apa yang coba Eliana kejar di Jakarta, seolah sebagai penanda bahwa bukan hanya kaum muda film saja yang perlu bangkit, namun seluruh kaum muda, apapun mimpi-mimpinya. Ada juga beberapa adegan yang menunjukan betapa Eliana ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Pertama, saat perdebatannya dengan sang ibu di warung dan kedua, ketika begitu antusiasnya Eliana saat berbincang dengan supir taksi (Arswendi Nasution) yang anaknya melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

 

Perbincangan Eliana dengan supir taksi ini juga menarik; usut punya usut supir taksi ini dulunya adalah seorang komikus, mungkin dikarenakan situasi pada masanya (Orde Baru) sehingga ia tidak bisa melanjutkan mimpinya. Ini benar-benar sesuai dengan realita di mana keberadaan komik lokal mulai perlahan menghadapi masa senjanya kala itu. Namun yang juga menarik, mantan komikus ini beralih profesi menjadi supir taksi demi membiayai anaknya yang saat ini sekolah di jurusan fotografi/film itu. Perbincangan Eliana dengan sopir taksi ini seolah ingin menegaskan bahwa mimpi sudah sepatutnya diperjuangkan. Dan orangtua sudah sepatutnya menjadi pendukung utama, bukan malah menjadi penghalang utama.

 

Lebih jauh dari itu, pemilihan tokoh utama film ini yaitu seorang perempuan, dengan masalah utama menolak perjodohan karena ingin mengejar mimpinya, juga memiliki arti tersendiri. Apalagi Eliana digambarkan tidak nampak seperti perempuan pada umumnya yang penurut. Ia sejak kecil nakal dan sulit diatur. Bukan hanya tak ingin diatur oleh sang bunda, namun juga oleh keadaan. Diceritakan meski Eliana kesulitan keuangan semasa hidupnya di Jakarta, namun ia tetap teguh pada pendiriannya tidak akan menjual harga dirinya. Berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu Heni (Henidar Amroe) yang memilih menjadi wanita simpanan dan Ratna (Marcella Zalianty) yang memilih bekerja di tempat hiburan malam.

 

Pada masa itu tentu peran perempuan tidak sebaik sekarang (padahal saat ini pun belum bisa dikatakan ideal). Namun pertimbangan pemilihan sosok perempuan yang berjuang lepas dari kungkungan orangtua dan budaya ini nampaknya ingin mengambil kutub paling ekstrem saat itu. Film ini seolah ingin berkata, “Perempuan seperti Eliana saja berani, masa kalian para lelaki takut?”

 

Pantas saja kalau film ini dianggap sebagai salah satu pendobrak pada masanya. Bukan hanya soal konten, namun memroduksi film pada masa itu saja nampaknya sudah terhitung langkah yang berani. Pada akhirnya film ini bukan hanya berarti bagi perfilman nasional, namun secara khusus memberi arti bagi tiap-tiap individu yang memiliki endapan mimpi. Menyenangkan sekali menonton film ini di masa sekarang, selain isunya yang masih relevan, juga sensasi format seluloidnya. Kapan lagi bisa menonton film dengan gambar yang berbintik, sering kehilangan fokus, transisi gambar yang kasar, gambar yang mendadak bergeser keatas atau kebawah, suara yang tidak stabil, semua itu menyenangkan, sungguh sungguh menyenangkan. Semoga semangat para pembuat film Eliana, Eliana dan semangat Eliana sendiri masih terjaga oleh kaum muda hingga saat ini.

 

Jadi, tidak usah banyak mengeluh, angkat kameramu!

 

Eliana, gadis tomboy yang susah diatur

(Sumber: mubi.com)

 

Salah satu adegan percakapan antara Eliana dan sahabatnya, Ratna

(Sumber: milesfilms.net)

 

Salah satu adegan Eliana dan sang Bunda di kontrakan

(Sumber: milesfilms.net)

RIDHO NUGROHO

Pendiri Studio Tumbuh, kelompok studi dan penciptaan audio visual di Yogyakarta

Menyelesaikan studi jurusan Ilmu Komunikasi di UIN Sunan Kalijaga pada 2017. Semasa kuliah tergabung dalam anggota Teater Eska. Selain itu juga aktif dalam Jama’ah Cinema Mahasiswa (JCM) hingga kemudian menjadi ketua periode 2014-2015. Saat ini aktif menulis terkait dunia perfilman untuk beberapa media online.

Beberapa tulisannya dapat dilihat di Jcmkineklub.com, Hipwee.com dan Berisik.id.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload