Marni: Petrus, Matius, dan yang Luput di Antaranya

Artikel ini disalin dari Cinema Poetica.

Marni sempat hadir di layar kineforum dalam program Arus Bawah (3-16 April 2017).

 

Film pendek Marni karya Kuntz Agus penting untuk ditonton. Karya berdurasi 23 menit ini mengangkat isu penembak misterius (“petrus”), satu isu yang belum pernah diangkat dalam wacana sinema sejarah kita. Satu-satunya “sejarah alternatif” Orde Baru yang hingga kini masih dirayakan adalah sejarah periode 1965-66. Padahal, operasi yang membunuh ribuan korban di tahun 1980an ini, meskipun skalanya lebih kecil, punya signifikansi politik yang tidak kalah pentingnya dengan peristiwa 1965-66. Jika pembantaian dan pemenjaraan massal pada tahun 65-66 merupakan usaha sistematis untuk mendirikan satu rezim baru dan memutus warisan rezim sebelumnya, maka Operasi Clurit (demikian sandi operasi para petrus) dilancarkan untuk mendisiplinkan populasi. Yang disasar petrus adalah mereka yang dianggap bromocorah, preman, atau lebih tepatnya, siapapun yang bertato dan terlihat seperti penjahat. Maka dengan alasan memberantas kriminal, negara menunjukkan bahwa ia berkuasa menentukan hidup-matinya seseorang.

 

Tidak hanya itu, dalam catatan antropolog James Siegel (New Criminal Type: Counter-Revolutionary Today, 1998), mayat bertato (yang juga disebut “matius”, mayat misterius) dibuang di jalan-jalan agar ditonton khalayak, yang kemudian merasa jijik dan mendiasosiasikan diri dari atribut apapun yang melekat pada korban (khususnya tato). Pesannya: siapapun yang tidak ikut kami sederajat dengan gali dan pantas ditembak. Tidak heran, kebanyakan ikut negara. Ada partisipasi kolektif dalam teror, sekalipun cukup ditunjukkan dengan diam. Ada pula moralitas baru yang dibangun dan disambut.

 

Marni lebih tertarik mengangkat Operasi Clurit dalam kaitannya dengan kehidupan rumah tangga. Marjuki, suami Marni, adalah calon korban yang sempurna. Ia mantan narapidana (meski hanya dua bulan dibui) dan bertato. Sehari-harinya, Marni menyembunyikan Marjuki dalam kamar rahasia di balik lemari. Rupanya negara sudah punya daftar buruan yang tak bisa diganggu gugat. Akhirnya mudah ditebak: setelah sang istri diintimidasi dan satu-dua perlawanan kecil, Marjuki roboh diterjang timah panas.

 

Ketakutan-ketakutan yang dihadirkan Operasi Clurit tidak hanya bersumber dari ancaman teror secara fisik. Keseharian Marni sesak dengan berita-berita koran dan siaran radio yang tak putus-putusnya menyiarkan penemuan mayat misterius dan pernyataan-pernyataan pejabat seputar keharusan Operasi Clurit. Di satu sisi ia harus melindungi Marjuki (dengan menyembunyikan dan menyuruhnya mengungsi ke rumah si mbah), namun di sisi lain ia tidak sepenuhnya steril dari pengaruh ideologisasi negara. Ketika Marjuki tengah berjibaku menyingkirkan tato di lengannya, Marni pun bertanya “Jika kau lukai seperti ini, apa dosamu akan hilang, mas?”.

 

Sayangnya intrusi ideologi negara hanya digambarkan sampai situ. Marni masih mengulang premis-premis lama bahwa apa yang terjadi sepanjang Orde Baru adalah negara yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat. Masyarakat lantas digambarkan sebagai korban yang sama sekali tidak punya peran dalam kekerasan. Kehadiran berita koran dan siaran radio yang menebar ketakutan dan mengafirmasi pembunuhan yang dilancarkan rezim memang sangat khas di era itu. Foto korban tak dikenal, dengan kerumunan yang menonton di sekelilingnya, selalu terpampang di setiap koran pagi.

 

Persoalannya, apa betul pembunuhan para preman sama sekali tidak disambut orang banyak? Kita ambil satu contoh yang sedikit berbeda. Di Uni Soviet tahun 1930-an, Stalin mulai memburu pejabat-pejabat teras Partai (baca: orang-orang di lingkarannya sendiri). Bagaimana cara Kamerad Stalin menyingkirkan mereka tanpa bersusah payah mengotori tangannya? Ia cukup mencari tukang pukul dari kalangan pemuda miskin yang jijik dengan birokrat Partai. Selanjutnya gampang ditebak: ribuan pemuda bergabung dan ramai-ramai mengganyang para komissar. Selebihnya, mereka yakin telah berbakti pada Partai dengan menyingkirkan pejabat-pejabat yang korup.

 

Tentu Operasi Clurit berbeda dari teror Stalinis. Negara tidak mengerahkan massa, tapi menertibkannya dengan cara-cara yang sangat terukur. Negara berani mengotori tangannya. Tapi bukan di situ persoalannya. Kemiripan antara Operasi Clurit dan teror Stalinis terletak di wilayah lain: eksebisi korban. Operasi Clurit adalah perayaan berskala nasional dimana korban dipertontonkan secara publik dan para warga bersyukur karena dirinya tidak seperti korban—bukan gali, tidak bertato, dan tidak pernah terlibat kriminalitas. Dalam hal ini, khalayak tidak saja dituntut untuk patuh, tapi juga dipaksa untuk percaya bahwa ketika semakin banyak jasad bertato bergelimpangan, semakin baik pula moralitas diri dan tetangga mereka. Uniknya, mereka tidak perlu ambil bagian dan mengganyang kriminal. Menonton saja sudah cukup.

 

Aspek korban-sebagai-tontonan publik dan euforia khalayak inilah yang absen dari Marni. Korban dikurung dalam satu ruang gerak yang sangat terbatas (rumah tangga) dan nyaris steril dari dunia sosial di luarnya yang hanya diwakili siaran radio dan berita koran. Ini saja tidak cukup. Yang lebih mengerikan dari operasi petrus bukanlah kejadian pada malam harinya ketika korban dibantai, tapi keesokan paginya, ketika korban ditemukan di tempat lain yang jauh dan ditonton orang banyak. Tanpa identitas yang jelas, korban bukan lagi siapa-siapa; ia cuma objek tontonan, sementara “kerumunan yang menonton” adalah subjeknya.

 

 

Tatapan Negara, Tatapan Massa

 

Shot-shot film Marni lebih mirip tatapan mata polisi yang mahatahu, omnipresent dan menyelidik. Ketika yang digunakan adalah sudut pandang polisi, aspek euforia publik justru tidak nampak. Shot-shot Marni yang analitis, yang bahkan mampu menangkap keresahan orang-orang di sekitar korban, mewakili tatapan negara. Tapi coba arahkan shot ini, misalnya, ke “kerumunan penonton korban” pagi harinya. Kita akan mendapati gambaran yang sedikit berbeda: massa yang resah dan berkumpul selama sejam atau dua jam di pagi hari.

 

Para sarjana film telah mencatat bagaimana sinema Orde Baru selalu mengobjektifikasi massa, yang dipandang sebagai kerumunan yang berbahaya, berpotensi rusuh, dan tidak bisa diatur, seperti yang ditujukkan dalam banyak kasus film-film horor, misalnya. Massa yang awam tidak pernah jadi subjek, melainkan objek yang dikontrol (sebagai tambahan, adakah dari film-film pra-1998 yang menampilkan adegan demonstrasi dari dalam arak-arakan?) Setelah reformasi, yang muncul dan dirayakan adalah yang sebaliknya. Orang sempat mengglorifikasi estetika kamera yang kasar dan mentah, yang konon lebih “partisipatoris”; mengamati massa dari jauh kini kurang menarik dibandingkan dengan berada dalam massa. Tentu, dari sudut pandang ini, aparat mudah dilihat sebagai objek.

 

Tapi cobalah belajar sportif. Di luar persoalan etika, adakah yang berani menampilkan (objek, korban) kekerasan dari sudut pandang kerumunan pelaku kekerasan? Yang kita saksikan akan sama atau mungkin lebih menyeramkan dari kekerasan yang ditampilkan dari sudut pandang negara. Ada gelora kolektif yang dilibatkan, dan sebagai penonton, kita dituntut untuk sederajat dengan subjek pelaku kekerasan yang sulit dihukum: massa. Efeknya akan jauh lebih brutal sekaligus menjijikan. Tapi di situlah poinnya; selama Operasi Clurit, menonton mayat tak dikenal sebelum memulai rutinitas keseharian adalah bagian ritual pagi hari selain sembahyang subuh, olahraga dan sarapan. Inilah rutinitas pagi hari ala Orde Baru di jaman itu: “mengkonsumsi korban” sekaligus “memproduksi moralitas”.

 

Menyaksikan kekerasan negara dari sudut pandang massa yang mendukung adalah sesuatu yang sangat mengerikan dan problematis. Tapi mungkin hanya dengan itu kita bisa sedikit lebih memahami bagaimana teror negara bekerja dengan memainkan psikologi orang banyak, yang terlibat entah sebagai peserta aktif maupun penonton yang diam-diam bersorak. Apakah ini berita baru? Tidak. Di tahun 1965-66 hal yang sama terjadi dalam skala yang lebih besar dan ganas. Demikian pula hari-hari ini.

 

Maka ilustrasi kekejaman negara dalam film Marni pun terlampau lunak. Ia masih terjebak pada lirisisme derita korban. Pemindahan setting ke dalam arena privat seperti keluarga mungkin diharapkan menjadi strategi yang mampu “menyampaikan ihwal besar dengan cara yang sederhana”, dengan asumsi bahwa keluarga adalah miniatur masyarakat. Sayangnya ada satu-dua hal yang mau tidak mau dikorbankan di sini. Boleh dibilang, Marni menitikberatkan aspek “produksi korban” yang dilakukan di malam hari, dan melupakan “konsumsi korban” pada pagi harinya. Imajinasi inilah yang hilang dari Marni.

 

Berita bagusnya, Marni akan diproduksi menjadi film panjang. Kita belum tahu bagaimana ceritanya akan dikembangkan, tapi setidaknya “petrus”, satu topik sejarah yang masih samar, akan diperbincangkan lagi. Untuk ke depannya, inilah prestasi Kuntz.

 

Marni | 2010 | Sutradara Kuntz Agus | Negara Indonesia | Pemain Ajeng Patria Meilisa, Agus Triatmojo, Agra Aghasa

WINDU JUSUF

Menulis kritik dan kajian film. Pada 2012 menjadi anggota dewan juri Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Sejak 2013 mengajar di jurusan film Binus International.

 

Temukan berbagai tulisan menarik lainnya di CINEMA POETICA - kolektif kritikus, jurnalis, peneliti, dan pegiat film di Indonesia yang berfokus pada produksi dan distribusi pengetahuan sinema bagi publik.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Kompilasi Film Pendek "Perspektif Berbeda mengenai Aceh"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts