ORDE (Ter)BARU

Menjelang dua dekade reformasi, realita negeri kita kian dipenuhi oleh berbagai konflik sosial. Kabar sengketa agraria yang datang silih berganti, disparitas informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di Papua, deforestasi dan kebakaran hutan, kebangkitan gerakan politik radikal yang mengatasnamakan agama, perdebatan panjang soal reklamasi, kekerasan seksual terhadap perempuan, hingga diskriminasi kelompok minoritas menjadi konsumsi harian utama di hampir seluruh media. Belum lagi bila menilik materi ‘wajib’ semacam korupsi, eksploitasi isu komunisme, maupun kasus pelanggaran HAM masa lampau.

 

Akar seluruh masalah di atas sesungguhnya dapat kita telusuri kembali ke zaman Orde Baru. Selama tiga dasawarsa rezim tersebut berkuasa, sudah banyak sekali kebijakan serta tindakan represif yang mencuat. Dengan pengaruh kultural yang sedemikian kuat, kita tentu masih menyaksikan dampak negatif dari era diktatorisme itu saat ini.

 

Melalui selusin film yang lahir sepanjang tujuh tahun terakhir, kita akan melihat bagaimana para sineas lokal membingkai pengalaman-pengalaman sosial represif di daerahnya masing-masing serta proses transformasi karya mereka menjadi bentuk perlawanan kreatif atas ketidakadilan sosial yang kian merusak nalar dan mental. 

 

Program ini terbagi dalam 3 kompilasi dan ditayangkan di kineforum 2 kali, selama 2 hari.

 

KOMPILASI I: KAPITALIS BIROKRAT [15+] -- 94 menit

Sabtu, 24 FEB, 14:30 // Minggu, 25 FEB, 14:30

KOMPILASI II: P4 (PENDIDIKAN, PERSEKUSI, DAN PELECEHAN PEREMPUAN) [18+] -- 93 menit

Sabtu, 24 FEB, 17:00 // Minggu, 25 FEB, 17:00

Khusus sesi Sabtu, akan diikuti dengan diskusi.

KOMPILASI III: BAHAYA LATEN (15+) -- 94 menit

Sabtu, 24 FEB, 20:00 // Minggu, 25 FEB, 19:30

 

 

DISKUSI

Setelah pemutaran Kompilasi II: P4 (Pendidikan, Persekusi, dan Pelecehan Perempuan)

Sabtu, 24 Februari 2018 | 17:00

 

Total selusin film yang mengisi program ini mengangkat beragam topik dengan sudut pandang unik: transmigrasi, pekerja anak di area tambang, komodifikasi sumber daya, reklamasi, kekerasan terhadap perempuan, daur ulang komunisme, represi militer, sengketa agraria, sistem pendidikan banal, budaya korup, dan diskriminasi atas kaum Tionghoa.

 

Kita akan mendedah topik-topik itu secara kolektif guna memetakan problem sosial di berbagai daerah di Indonesia, lantas membangun kesadaran publik yang berkelanjutan, sekaligus mencari tawaran solusi yang berdaya tahan.

 

NARASUMBER

  • Saras Dewi (Dosen Filsafat UI)

  • Zhafran Solichin (Sutradara ‘Salam Dari Kepiting Selatan’, nominator Piala Citra FFI 2017 Kategori Film Pendek)

JONATHAN MANULLANG

Juru program Sinema Rabu dari 2015 sampai 2017. Pernah terlibat sebagai Kurator Muda Asia di Arkipel - Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival tahun 2015. Gemar menonton anime Naruto Shippuden sekaligus pengagum karya-karya Ingmar Bergman dan Maya Deren.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts