Sayang, Sayangilah Jiwamu

 

 

Di abad ke-21 ini, kesehatan jiwa ternyata masih sulit dibicarakan secara terbuka. Dalam pandangan umum bahwa orang dengan gangguan jiwa dianggap aib, mengakibatkan banyak yang tidak mendapatkan penanganan serta perawatan yang segera dan sesuai. Padahal masalah serta gangguan kejiwaan dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan berakibat fatal. Hingga kini, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah bentuk pertolongan pertama yang perlu dilakukan. Orang-orang yang memang sudah mendapatkan diagnosis secara medis pun masih kesulitan mencari informasi yang tepat mengenai kondisi mereka atau sekadar menemukan sesama penderita untuk berbagi pengalaman. 

 

Lewat festival film ini, kami mencoba memulai eksplorasi mengenai beberapa kondisi kejiwaan dan membangun dialog tentangnya. Kami berharap dengan lebih membuka diri dan pikiran, semakin banyak orang yang berani untuk melakukan penanganan dini terhadap dirinya sendiri maupun keluarga atau sahabat yang diduga menderita gangguan jiwa dan masalah kesehatan mental. Dengan melakukan ini, kami juga berharap efek-efek negatif, seperti menyakiti diri sendiri maupun orang lain serta komplikasi dengan kesehatan fisik, bisa dikenali untuk segera ditangani.

 

Seorang psikolog terkenal pernah mengatakan di sebuah seminar bahwa di dalam lagu nasional kita yang berjudul "Bagimu Negeri" mengandung sebaris lirik yang berbunyi 'bagimu negeri jiwa raga kami', di mana 'jiwa' hadir lebih dulu daripada 'raga'. Di negeri yang juga sudah semakin 'gila' ini, sudah sebaiknya kita menjaga kesehatan mental maupun fisik kita. Hidup hanya sekali, sayang. Mari kita sayangi jiwa kita.

 

Sampai bertemu di kineforum.

 

Salam sayang,

Kolektif Sayang Jiwa

Amalia Sekarjati - Eric Sasono - Gratiagusti Chananya Rompas - Mandy Marahimin - Mikael Johani - Waraney Herald Rawung

Edisi perdana festival film yang diberi tajuk "Sayang, Sayangilah Jiwamu" akan hadir di KINEFORUM pada tanggal 6-8 Oktober 2017.

 

KINEFORUM menyediakan tempat untuk 45 penonton pada setiap pemutaran. Tiket hanya tersedia 1 (satu) jam sebelum pemutaran. Pastikan kamu hadir lebih awal untuk mendapatkan tiketnya. Siapa cepat, dia dapat. Pintu studio akan ditutup 10 menit setelah jadwal pemutaran dimulai.

 

Jadwal Festival Film "Sayang, Sayangilah Jiwamu" di KINEFORUM

 

JUMAT, 6 OKTOBER 2017

19:30  | At the Very Bottom of Everything (18+)

Sebuah kisah pedih perjuangan wanita muda melawan Bipolar Disorder, perjalanan surealiske alam pikirannya yang terganggu dan menderita trauma.

-- diikuti dengan sesi tanya jawab bersama Paul Agusta (Sutradara).

 

 

SABTU, 7 OKTOBER 2017

16:30  | SAIA (21+)

Seorang perempuan tidur dengan seorang lelaki di sebuah kamar dengan jendela terbuka. Mereka terlibat dalam permainan cinta yang makin lama makin menegangkan. Sebuah eksplorasi akan tubuh, sekaligus mempertanyakan arti voyeurisme.

-- semua penonton diwajibkan menitipkan semua piranti yang dapat digunakan untuk mengambil gambar, tidak terkecuali telepon seluler dan tablet.

 

19:30  | hUSh (18+)

Seorang penyanyi dari Bali, pindah ke Jakarta mencari ketenaran. Di ibukota ia terjerumus ke dalam segala perangkap kesuksesan. Memutuskan pulang kampung, ia pun melalui perjalanan yang menguak berbagai macam problema yang kerap dialami para perempuan di negeri ini.

-- diikuti dengan sesi tanya jawab bersama Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume (Sutradara)

 

 

MINGGU, 8 OKTOBER 2017

16:30  | Kompilasi Dokumenter:

-- diikuti dengan sesi diskusi bersama dr. Endah Ronawulan, SpKJ (Psikiater), Bagus Utomo (Pendiri KPSI), dan Albert Wirya (Peneliti LBHM)

 

Breaking the Chains (15+)

Breaking the Chains adalah film dokumenter pertama yang menempatkan praktik pasung dalam konteks sosial-politik- kultural Indonesia dan memberikan tempat bagi korban pasung dan ODGJ untuk bersuara. Film ini merupakan bagian dari https://movie-ment.org/

Peringatan: Pelecehan, ‎Tindakan menyakiti diri sendiri, ‎Bunuh diri,  ‎Penyiksaan, ‎Gangguan kejiwaan.

 

Heaven for Insanity (15+)

Watmo dianggap gila dan sering “membuat resah” oleh para tetangganya. Sampai akhirnya, Pak RT memutuskan membawanya ke sebuah “rumah gila” secara paksa. Film dokumenter ini mengajak kita memikirkan kembali konsep “waras” dan “kebahagiaan".

Peringatan: Pelecehan, Penyiksaan, ‎Gangguan kejiwaan.

 

19:30  | Pintu Terlarang (18+)

Hidup seorang pematung yang sukses mulai berantakan setelah dia mulai menerima pesan-pesan misterius dari seseorang yang meminta pertolongannya. Saat dia mencari tahu lebih lanjut, ia pun harus memilih: menyelamatkan anak kecil itu atau kehilangan semua milik dan hidupnya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload