Sihung (Canine): Pertarungan Emosi hingga Ekonomi

Sihung sempat tayang di layar kineforum dalam program Arus Bawah (3-16 April 2017).

Sutradara Esa Hari Akbar hadir dalam sesi tanya jawab pada tanggal 4 April 2017. Simak catatan acaranya di bawah ini.

 

Ngadu bagong adalah sebuah permainan rakyat Sunda yang mempertarungkan anjing dan bagong (babi hutan). Permainan ini telah menjadi hobi turun temurun bagi sebagian masyarakat di daerah kaki Gunung Manglayang. Permainan inilah subyek utama film Sihung.

 

Dalam arena ngadu bagong, anjing milik para peserta digilir untuk menyerang bagong dan adu kekuatan, saling cengkram hingga saling seruduk. Skor diperoleh ketika anjing bisa menggigit bagong, sementara di sisi lain, anjing yang sudah dirawat dengan mahal itu pun berisiko kena seruduk taring bagong. Maka tak ayal pertarungan ini pun penuh dengan darah dan emosi yang tinggi. Tetapi yang penting, perputaran ekonominya pun juga tinggi. Selain itu, para penggiat permainan ini yakin pada simbiosis saling menguntungkan yang terbentuk: para petani di sekitar berkepentingan untuk membasmi hama bagong. Maka dikerahkanlah para pemburu untuk menangkapnya, menggunakan bantuan anjing. Hasilnya, anjing makin terlatih, hama bagong ditangkap (untuk kemudian nanti diadu), dan yang terlibat mendapat hiburan.

 

Tradisi ngadu bagong terbentuk karena tiga pihak yang saling mengisi itu: penghobi anjing, pemburu bagong, dan adanya arena pertarungan. “Tokoh” utama film ini adalah Ade Rohmat dan putrinya Ilma Nurjanah, anak bapak yang telah menyusuri hobi ngadu bagong sejak lama. Sihung mengikuti keseharian mereka, terutama Ilma Nurjanah, yang karena perempuan, jadi tampak menyolok di antara sekian pehobi ngadu bagong. Ditunjukkan bagaimana Ilma dan Ade merawat anjing pitbull yang dibeli dengan harga hampir 2 juta, untuk mengasah kemampuannya menjadi anjing petarung yang berani.

 

Tentu saja praktik ini bukan tanpa pro dan kontra. Esa Hari Akbar, sang sutradara, bercerita bahwa sesi diskusi di JAFF-NETPAC tahun 2016 silam dipenuhi dengan pertanyaan dan kegelisahan melihat darah yang tumpah dari hewan-hewan yang terlibat pertarungan. Bahkan dalam pemutaran di kineforum tanggal 4 April 2017, dua orang penonton menyerah setelah 20 menit, dan memilih pergi. Memang jika kita melihat pertarungan yang tersaji di Sihung, para pecinta binatang mungkin akan mengalami serangan jantung. Apakah ini praktik yang benar? Apakah praktik ini patut dilestarikan atas nama tradisi budaya? Film Sihung memilih untuk menyajikan saja fenomenanya di hadapan penonton tanpa berusaha menghakimi. Meskipun batasan antara tidak menghakimi dan tidak bersikap bisa sangat tipis.

 

Ide pembuatan Sihung sejatinya muncul dari ketergelitikan Esa memperhatikan tradisi di sekitarnya di Bandung selatan. Suatu tradisi yang Esa perhatikan memang telah terpinggirkan dari tengah kota Bandung. Para tokoh dalam Sihung, menurut Esa, juga memiliki kesadaran bahwa aktivitas mereka selalu punya risiko akan dilarang. Namun mereka memilih untuk tidak memusingkan hal itu. Dunia penggiat ngadu bagong, seperti dalam amatan Esa dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran, masih memiliki dimensi lain. Antara lain kegiatan penangkaran anjing yang dikhususkan untuk perburuan berikut kegiatan perdagangannya, yang ternyata membentuk hubungan khusus antara tanah Sunda dengan Minangkabau. Esa memiliki rencana untuk membuat sekuel Sihung dengan memperluas jangkauan pengamatannya meliputi kegiatan-kegiatan itu. Sementara itu, dengan segala kemungkinan kontroversinya, Ade dan Ilma meneruskan hobi mereka di pelosok pinggiran Bandung.

NAAFI F. HARWANTI

Salah satu peserta program magang kineforum 2017. Menulis artikel liputan ini di bawah bimbingan Ifan A. Ismail, Koordinator Program kineforum.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload