Yang Membuat Yang Muda Lebih dari Bercinta

Yang Muda Yang Bercinta hadir di layar kineforum dalam program Kawah Candradimuka (11-24 Januari 2018).

Orde Baru yang lahir pada paruh kedua dekade 1960an, menandai perubahan perjalanan bangsa yang awalnya dipimpin oleh kaum terpelajar didikan era Belanda, berganti dengan para barisan pemimpin berlatarbelakang militer hasil gemblengan KNIL dan lalu, Jepang.

 

Kekuasaan yang berganti lewat cara yang tak sepenuhnya mulus itu meninggalkan banyak catatan dan pekerjaan rumah bagi rezim selanjutnya. Indonesia mulai kebanjiran produk asing hasil politik pintu terbuka dan Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang digagas DPR setelah naiknya Mayor Jenderal Soeharto ke tampuk kepemimpinan. Orang kaya baru bertebaran dengan cara cara yang rakus dan tak halal.

 

Anak muda yang tak puas dengan hal ini kemudian mengorganisir suatu demonstrasi yang kemudian berubah menjadi chaos besar pertama setelah pergantian kekuasaan: Peristiwa Malari. 15 Januari 1974, tepat setelah kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka, demonstrasi dan kerusuhan meledak di Jakarta. Hasilnya, para pimpinan mahasiswa ditangkapi dan kaum intelegensia eks Partai Sosialis ditahan karena dugaan mendalangi kerusuhan. Orde Baru menunjukkan taringnya.

 

Anak muda mulai gelisah karena tidak merasa bisa menjadikan generasi tuanya sebagai teladan: korup, oportunis dan tidak acuh pada perkembangan anaknya. Tema moral, anti modal asing, dan anti kebodohan menjadi semangat aksi-aksi yang dilakukan. Di sisi lain, kaum tua gelisah dengan perilaku anak-anak yang dianggap pemberontak; dari penampilan dan gayanya yang acuh, dinilai tak mampu melanjutkan estafet kepemimpinan generasi 1945 yang satu persatu telah tiada.

 

Di tengah konteks dengan berbagai gejolak itu, alkisah seorang Sonny (W.S. Rendra), sang mahasiswa ekonomi yang juga penyair, menghadapi kesulitan ekonomi karena ayahnya (Maruli Sitompul) adalah seorang pegawai negeri yang sangat jujur. Berbeda dengan temannya Alex (Rudy Salam), anak keluarga kaya Warouw yang tiap malam hura hura dan pesta, walau kekayaan ayahnya didapat dengan cara yang tak halal. Sebagai jalan pintas, Sonny dimanja oom Kardjo (Soekarno M. Noor), sang paman kaya yang royal pada keluarga Sonny. Oom Kardjo pun sama, ambil kesempatan mengeruk harta dari bisnis kotor keluarga Warouw. Sonny mempertanyakan jurang perbedaan antara dirinya dan Alex, padahal ayahnya sama-sama pejuang pada era kemerdekaan, namun nasib berbeda terlalu mencolok.

 

Di sisi lain, percintaan Sonny dan Titik (Yati Octavia) yang mesra membawa petaka, Titik hamil. Saat inilah kedewasaan Sonny diuji. Di tengah kegelisahannya, Sonny ikut Oom Kardjo pulang kampung. Ziarah ke para leluhur dan merenungkan semua yang telah terjadi.

 

W.S. Rendra terkenal sebagai sastrawan populer dan oposan terdepan Orde Baru. Salah satu adegan dalam film diambil ketika Rendra membaca sajak di ITB pada malam keprihatinan pada 28 Oktober 1978, yang dikenal dengan puisi Sajak Sebatang Lisong.

 

Akhir 1970-an merupakan era paling panas hubungan antara Rendra si Burung Merak dengan rezim Orde Baru. Panggung-panggung puisinya sering ditolak dan dicekal. Pada satu momen bahkan dibubarkan paksa dengan bom amoniak yang dilempar ke panggung. Bau menyeruak ke seluruh penjuru pentas, namun Sang Burung Merak tetap bertahan.

 

Yang Muda Yang Bercinta garapan Sjuman Djaya tahun 1977 mencoba merangkum semua kegelisahan jaman itu dalam bentuk seluloid. Percintaan remaja, orang-orang tua yang korup, bahkan pertentangan kelas. Naskah yang digarap budayawan Umar Kayam memang penuh kritik sosial yang tajam untuk akhir era 1970-an.

 

Tokoh ayah dan ibu Sonny (Maruli Sitompul-Nani Widjaya) yang sangat jujur dan bersahaja, bersikap strict dengan sang anak, kontras dengan ayah dan ibu Alex (Frans Tumbuan-Rima Melati) yang kaya dan korup, serta permisif dan memberi segala yang sang anak inginkan. Seolah menggambarkan dua karakter orang tua yang kontras, juga secara tidak langsung mempertentangkan perbedaan dua kelas yang sangat lebar.

 

Karakter unik dalam film ini adalah Oom Kardjo yang diperankan oleh aktor legendaris Soekarno M. Noor. Sebagai paman dari Sonny, adik dari ayahnya, Oom Kardjo digambarkan semacam figur sinterklas yang royal pada keluarga Sonny karena nasib yang lebih beruntung, walau kemudian diketahui kalau kekayaannya juga didapat karena ikut dalam bisnis hitam keluarga Alex. Awalnya Sonny kagum dengan Oom Kardjo, namun setelah diketahui menjadi kaki tangan ayah Alex, kekagumannya meluntur. Hingga akhir film, Oom Kardjo tetap menjadi tokoh semacam ayah kedua Sonny, yang selalu menasehati dan mengingatkan, bahkan memiliki kepercayaan lebih padanya dibanding sang ayah.

 

Sex Yes, Politik No

Jika di film-film pasca Reformasi sensor difokuskan ke adegan-adegan yang menjurus pornografi, di era Orde Baru malah seolah berlaku pemeo “Sex Yes, Politik No”. Dikutip dari situs filmindonesia.or.id, film berdurasi 127 menit itu telah terpotong sensor sebanyak 18 menit. Sensor tersebut bukanlah karena adegan menjurus pornografi, melainkan konten film yang dianggap politis, bahkan disebut “dinilai ada unsur propaganda, agitasi dan menghasut masyarakat, khususnya generasi muda”.

 

Harus diakui, Rendra dikenang sebagai aktor yang cukup berani melakukan beberapa adegan panas dengan Yati Octavia dalam film ini. Tapi hal tersebut bukanlah menjadi isu utama yang meresahkan rezim berkuasa, namun justru muatan sajak-sajak Rendra, atau dialog-dialog serta penokohan yang kritis dalam konteks jaman itu.

 

Saking dianggap berbahaya, film ini konon sampai dibicarakan oleh Kopkamtib atau Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, badan khusus rezim Orba yang dibentuk pasca G30S sebagai komando teratas penegakan. Pada masanya mendengar nama instansi tersebut sudah membuat bulu kuduk berdiri. Teror negara pada bentuknya yang paling angkuh. Akhirnya para pecinta film Indonesia baru bisa menikmati aksi Sonny di layar emas pada tahun 1993, enam belas tahun (!) setelah film ini dibuat.

 

 

Yang Muda Yang Bercinta | 1977 | Durasi 127 menit | Sutradara Sjuman Djaya | Penulis Umar Kayam | Produksi Matari Artis Jaya Film | Negara Indonesia | Pemain WS Rendra, Maruli Sitompul, Sukarno M. Noor, Yati Octavia, Nani Widjaya, Ade Irawan, Rudi Salam, Poppy Dharsono, Yayuk Suseno, Frans Tumbuan, Rima Melati

Harry Hariawan

Relawan kineforum 2016. Peserta magang kineforum 2017.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload