Ketika Mengolah Harta Jadi Ilmu Kebatinan (Catatan diskusi kineforum Desember 2017)

Program diskusi Bongkar Brankas bertajuk "Saatnya Bongkar Brankas" diadakan pada hari Sabtu, 9 Desember 2017, 17:00. Simak catatan acaranya di bawah ini.

 

Pembicara:

Ito Prajna Nugroho (Peneliti)

Ligwina Hananto (Financial Planner)

 

 

“Kita butuh kaya gak sih?”

 

Terlontar dari mulut salah seorang pembicara, kalimat itu adalah sebuah pertanyaan yang kerap kita lompati dalam siklus sekolah-lulus-kerja. Mungkin kerap terselip di antara fase lulus dan kerja, ataupun dari kerja pertama ke kerja berikutnya. Namun janggalnya, pertanyaan eksistensialis finansial ini jarang muncul ke permukaan. Kebutuhan untuk kaya atau mencari ‘lebih’ selalu hadir, bahkan nyaris absolut ada; semacam keniscayaan moral. Maka minimnya pembicaraan soal ini, atau bahkan atmosfer yang nyaman untuk memulai pembicaraan, membuat saya lantas curiga bahwa pertanyaan ini sengaja dihapuskan dari permukaan pemikiran orang-orang. Semata, demi menyokong sistem kapitalisme.

 

Nyatanya, di abad ke-18, sistem pendahulu kapitalisme yakni ‘merkantilisme’ diciptakan demi menjinakkan konflik-konflik yang timbul akibat sistem feodal. Dengan mendorong mayoritas warga negara—tak peduli kelas sosialnya—turut bekerja demi membantu perekonomian negara, sistem yang mengedepankan perdagangan ini sekaligus mengalihkan hasrat manusia akan kekerasan ke arah hasrat untuk kaya. Di sini, hasrat untuk kaya berperan mulia sebagai hasrat yang mejinakkan hasrat-hasrat agresif lainnya yang lebih berbahaya. Lewat paparan historis ini, pembicara Ito Prajna Nugroho menawarkan pandangannya akan pentingnya keberadaan ‘hasrat untuk kaya’.

 

“Hasrat untuk kaya sesungguhnya merupakan pengalihan dari hasrat-hasrat lainnya,” simpul Ito.

 

Namun patut diingat, ia menambahkan, ‘hasrat untuk kaya’ ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi dia dapat menjinakkan, namun di sisi lain dia butuh dijinakkan oleh hasrat-hasrat yang lebih positif lagi. Jika tidak, pengejaran kekayaan demi kekayaan itu sendiri lambat laun akan mengkorupsi karakter sang manusia.

 

Bukan, ini bukan hasil doktrin sinetron ataupun film-film sosialis yang giat menunjukkan orang kaya itu ‘jahat’.

 

Peneliti dari Harvard Business School dan London Business School sudah menguji kecenderungan ini secara akademik. Dengan membandingkan reaksi psikologis dua kelompok responden dalam mengambil keputusan bisnis, duo peneliti tersebut menemukan bahwa kelompok yang terpapar dengan kemewahan akan cenderung mendahulukan kepentingan pribadi saat mengambil keputusan.

 

Kekayaan dan kemewahan, dengan kata lain, kian membuat kita sebagai manusia yang penuh cacat cela ini lebih tidak sensitif akan kebutuhan dan penderitaan orang lain.

 

Lalu, kapan kita ‘boleh’ kaya?

 

Menurut pembicara Ligwina Hananto, kebutuhan untuk kaya baru akan bermanfaat ketika seseorang memiliki purpose yang lebih besar dari kepentingannya pribadi. Untuk kebutuhan sehari-hari, ‘cukup’ saja sudah cukup baik. Namun sayangnya, kesadaran ini seringkali teredam oleh sifat tamak manusia. Pelajaran ini Ligwina alami sendiri saat membimbing klien-kliennya merencanakan keuangan demi mencapai tujuan hidup tertentu.

 

Sebagai konsultan finansial, ia dan kliennya mula-mula akan menyepakati jumlah uang yang harus disisihkan demi tercapainya tujuan. Menariknya, selama 15 tahun pengalaman Ligwina, klien-klien yang menyimpang dari perencanaan keuangan bukanlah mereka yang tidak mampu membayar. Meski mulanya disiplin dalam menata keuangan pun, biasanya mereka goyah seketika saat muncul penawaran investasi/skema apapun yang memberi kemungkinan timbal balik lebih besar, meskipun hal itu di luar tujuannya.

 

Di titik ini, total meladeni ‘hasrat untuk kaya’ jelas memupuk sifat serakah manusia.

 

Untuk menemukan titik tengahnya, kita bisa melirik cara hidup kaum filsuf bermazhab Stoic zaman Romawi. Layaknya kaum Buddhis, filsuf-filsuf aliran ini menekankan pentingnya kontrol diri atas emosi-emosi destruktif seperti napsu keinginan. Beberapa dari mereka justru dipercaya untuk memegang tampuk kekuasaan dalam pemerintahan—seperti Kaisar Roma Marcus Aurelius dan Senator Seneca, karena reputasinya sebagai penganut filosofi stoicism yang terkenal mampu mengendalikan hasrat duniawi.

 

Semua hasrat pada dasarnya buruk, Ito percaya itu. Namun, kepiawaian kita menata hasrat yang lebih jinak sebagai pengekang hasrat yang lebih berbahayalah yang menjadi kunci pengendalian diri.

 

Ito lantas mencontohkan bagaimana hasrat untuk dipuja-puja mengalahkan hasrat untuk kaya pada koruptor-koruptor yang bertobat dan ‘alih profesi’ menjadi pemuka agama. Teknik mengalihkan hasrat ini juga tercermin dalam kehidupan orang-orang Romawi.

 

“Walaupun orang-orang Romawi punya banyak keburukan, tetapi keburukan yang mungkin menguntungkan adalah hasrat akan kejayaan, hasrat bangga diri untuk dipuja-puja, yang mengalahkan dua hasrat lain yang lebih buruk—yaitu hasrat seks ekstrem dan hasrat serakah,” Ito mengutip Santo Agustinus.

 

Mungkin sudah waktunya kita berdamai dengan hasrat yang satu ini. Memang… menggunakan hasrat untuk kaya sebagai motivasi, tanpa membiarkan diri kita terjebak keserakahan, bisa jadi semacam misi meniti tali. Dalam mengarunginya, punya purpose yang mengutamakan kepentingan orang banyak dapat menjadi pegangan meski tidak menjamin keseimbangan. Meski ‘harta’ itu sendiri tidak serta merta membuat seseorang ‘jahat’, namun harta dapat menjadi kaca pembesar akan keburukan jiwa (vices) yang sebelumnya tersembunyi. Pada akhirnya, mengelola brankas pun menjadi proses yang bersandingan erat dengan proses mengendalikan hasrat dan mengenal keburukan diri.

 

Untungnya, kita tidak perlu menunggu sampai bergelimang harta untuk bisa mengerti bagaimana harta dapat membutakan kita. Program kineforum di bulan Desember 2017 bertajuk BONGKAR BRANKAS menyajikan 14 film panjang untuk menemani kita mempertanyakan kembali se-’sehat’ apa hubungan kita dengan harta.

 

Dalam film blockbuster Hollywood Gold yang berlatarkan proyek penambangan nyata di hutan Kalimantan, kita melihat bagaimana harta menjadi wujud dari penyaluran hasrat untuk diakui. Lewat dokumenter Sins of My Father tentang anak dari gembong kartel narkotika Kolombia, Pablo Escobar, kita dapat menyaksikan saat-saat gunungan harta menjadi sumber bencana dan menyakiti orang-orang terdekat kita. Tak kalah menyentilnya, sinema lawas nasional Cukong Blo’on pun memperlihatkan ironi yang terjadi ketika seorang rentenir mengandalkan harta untuk membeli hati perempuan.

 

Program BONGKAR BRANKAS berlangsung hingga 20 Desember 2017 di KINEFORUM.

 

 

KLARA VIRENCIA

Umat penonton film. Berkenalan dengan mazhab-mazhab film non-Hollywood lewat Kelas Kritik Film Pendek Konfiden 2012.

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload