REKA SUARA: KHIKMAWAN SANTOSA

Saat menikmati sebuah film, segala rupa indra kita dimanja dan dibuat percaya bahwa kita sedang berada dalam sebuah dunia yang lain. Dunia rekaan yang sedang dibangun melalui gambar dan suara. Gambar yang tergulir di hadapan membuat percaya bahwa sedang ada kisah yang akan menghanyutkan. Sementara itu, tata suara… suara berbuat apa?

 

Almarhum Khikmawan Santosa pernah “curhat” bahwa dunia tata suara sering luput dari perhatian, dan tampaknya ada benarnya. Kita penonton kerap lebih terpukau pada gambar dalam film daripada yang dicerap oleh telinga. Padahal melalui tata dan rancang suara yang mumpuni, dunia yang hadir ke penonton kian lengkap. Sayangnya mungkin kita masih bersikap “tak tampak maka tak sayang”. Berpulangnya Khikmawan Santosa menjadi sebuah kehilangan yang besar bagi perfilman Indonesia karena masih sedikitnya yang sadar akan pentingnya dunia tata suara dalam film.

 

Bulan ini, lewat program kecil ini, kineforum ingin mengenang kerja almarhum Khikmawan Santosa lewat karya-karyanya yang dapat dianggap sebagai tonggak eksplorasinya.

RETROSPEKTIF: SJUMAN DJAYA

Film tak hanya alat hiburan yang memajang gambar-gambar yang memesona atau menyenangkan. Salah satu fungsi film adalah menjadi kritik sosial atas kehidupan masyarakat. Itulah kredo daripada aliran kebudayaan realisme sosial, yang berpijak daripada kenyataan kehidupan sehari-hari dan kritis pada fenomena yang terjadi di tengah masyarakat.

 

Sineas asli Betawi ini kerap dikenal dalam sejarah perfilman Indonesia sebagai sutradara Indonesia yang berani membuat film yang kental dengan muatan sosial. Dalam karyanya ia seolah menjadi sutradara dengan trade mark menyelipkan unsur-unsur kritik sosial. Apakah itu pengaruh dari pendidikan film yang beliau dapatkan di Moskwa? Entahlah. Namun harus diakui ada beberapa karyanya yang memang ‘kemasukan’ roh filmmaker Rusia macam Eisenstein, atau mengadaptasi karya penulis asal negara beruang merah tersebut, seperti Anton Chekov.

 

Itu hanya satu segi bung Sjuman Djaya. Ia juga seorang penggarap film yang sentimental, dengan referensi karakter dalam film yang merujuk pada masa kecil tokoh, pergerakan kamera yang melebar, atau menghasilkan gambar yang cenderung puitis.

 

Belum lagi dengan visinya yang ingin memperbarui cara bertutur sinema. Bung Sjuman nampak selalu merombak bahkan lebih jauh bereksperimen untuk menemukan cara baru, melawan pakem atau standar yang dianggapnya usang dan klise. Atau usahanya yang mencoba setia dengan alur karya sastra yang diadaptasi ke dalam skenario dan layar.

 

kineforum mengajak para pencinta sinema menengok kembali 4 (empat) buah film penting garapan Sjuman Djaya dalam mini program Retrospektif: Sjuman Djaya, bagian dari program kineforum Juni 2019. Mari menonton!

WARNA.

NADA. SKENA.

Pada masa kini yang begitu terbuka untuk mengakses berbagai sumber informasi dan preferensi, timbul kecenderungan untuk mengotak-ngotakkan mana yang benar atau salah, baik atau buruk, berdasarkan keyakinan dan pengetahuan masing-masing.

 

Sama halnya dengan pelabelan arus utama atau arus pinggir dalam musik, yang pada satu sisi kontradiktif dengan universalisme dalam musik, namun, di sisi lain, juga membentuk identitas yang unik bagi beragam genre dan komunitas musik, dimana masing-masing darinya memiliki pengalaman kolektif dan mekanisme kebertahanannya sendiri-sendiri.

 

Melalui pemutaran 7 film dokumenter dan 1 sesi diskusi pada program “Warna. Nada. Skena.”, kineforum ingin mengajak penonton untuk memaknai dan menjelajahi seluk-beluk, budaya, serta pergolakan sosial politik di sekitar yang mempengaruhi eksistensi keseharian skena musik di Indonesia dan Asia Tenggara (Singapura, Myanmar, dan Kamboja), yang luput diperhatikan akibat distorsi realitas yang lebih menyoroti rutinitas ketimbang ruang-ruang ekspresivitas.

PosterJuni2019

Copyright © 2017 / kineforum

‚Äč

Taman Ismail Marzuki
(Belakang Galeri Cipta 3)
Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330
Indonesia

Program dari

  • White Facebook Icon
  • White Twitter Icon
  • White YouTube Icon
  • White Instagram Icon