Cutie and the Boxer

Sabtu, 17 FEB, 14:30

Diikuti dengan #SESIBUKABUKAAN

Donasi SUKARELA

40 tahun yang lalu, Noriko terbang ke New York untuk belajar dunia seni dan menemukan cintanya pada Ushio Shinohara, seorang seniman mbeling yang juga pindah ke New York untuk menyalurkan aspirasi seninya yang meledak-ledak. Mereka pun menikah dan menjalani hubungan yang naik turun. Hingga usia lanjut, Ushio masih belum mendapatkan terobosan besar di karirnya dan bahkan masih sering harus menunggak kontrakan. Sikap angkuh dan slengekan Ushio sendiri tidak banyak menolong. Bahkan Noriko lalu mengerjakan karyanya sendiri, yang isinya merenungkan ulang hubungannya dengan Ushio. Iri, kesal, angkuh, tertawa, dan bahagia datang silih berganti. Pada akhirnya, mereka berdua memang saling mencintai dan sama-sama bersedia terbenam dalam dunia seni, dunia berkarya, yang kadang-kadang bisa sangat mencekik.

 

Dokumenter ini mengantarkan sutradaranya, Zachary Heinzerling, memenangi penghargaan Sutradara Terbaik di Sundance Film Festival 2013. Film ini juga menjadi salah satu nomine untuk kategori Best Feature Documentary di ajang The Academy Awards (OSCAR) tahun 2013. Potretnya yang dekat dan hangat atas pasangan suami-istri yang acakadut ini memancing topik yang bisa panas: sehatkah hubungan yang mereka jalani? Atau memang itu yang mereka perlukan? Sedosis campuran rasa sakit dan kesal untuk tetap saling mencinta? Cutie and The Boxer akan mengajak kita merenung, baik dalam hati maupun dalam kepala.

--

40 years ago, Noriko left Japan for New York to plunge into her dream world of modern art. She met Ushio Shinohara, a frenzy modern artist who had yet to make a break. They got married and lives a roller-coaster of a marriage. Until now, they live meagerly, and often behind in paying rents. And even worse, he starts to feel that he has past his prime. But his pride prevents him to do better and even at times, belittling Noriko. Meanwhile, Noriko works on her own projects, contemplating their own relationship. Jealousy, contempt, laugh and love fill their rich life. In the end, they choose to submit together in their “demons” of creating art, and keep sail the marriage boat in love, no matter how rocky the journey has been, and will be.

 

With Cutie and The Boxer, the director, Zachary Heinzerling, won the Best Director award in Sundance Film Festival 2013. The film also received a nomination for Best Documentary Feature in the Academy Awards (OSCAR) 2013. His intimate and compassionate portrait of the couple leads us to contemplate: what and where are the lines in a relationship? Do Noriko and Ushio have a functional relationship? The documentary asks us to delve deeper into the nature of relationships.

 

Sutradara Zachary Heinzerling | Tahun 2013 | Durasi 82 menit | Jenis Dokumenter | Negara Amerika Serikat | Bahasa Inggris, Jepang | Subteks Bahasa Inggris | Format Digital | Klasifikasi Usia 15+

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Diskusi "Berani karena Boleh: Film B Indonesia dan pendekatan New Cinema History"

1/10
Please reload

Search By Tags
Please reload

Related Posts
Please reload