Filmmaking adalah Perlawanan


Artikel ini disalin dari blog pribadi Eric Sasono, dalam rangka menyambut program reguler kineforum bulan Mei 2017 yang bertajuk Menolak Bala.

Ketika dilarang bikin film di negaranya, sutradara Iran, Jafar Panahi pun menjadi supir taxi. Dibawanya kamera ke dalam taxi dan ia merekam segala interaksi dengan para penumpangnya. Maka sekali lagi sesudah “This is not a Film”, Jafar Panahi kembali mengakali rezim yang mengekangnya, lewat film terbarunya, Taxi.

Namun bukan Panahi namanya jika ia membuat filmnya seakan-akan bukan film (seperti The Martian, misalnya yang disajikan seakan kejadian sungguhan tentang seorang ilmuwan yang terdampar di Mars). Panahi membuat keberadaan kamera dan proses filmmaking menjadi transparan, diketahui oleh para aktornya maupun, tentu saja, para penonton.

Bahkan film ini adalah tentang filmmaking, tepatnya tentang budaya sinema di negeri bersyariat Islam itu. Ia membicarakan soal produksi dan sirkulasi film dalam situasi gerilya. Panahi memperlihatkan bahwa filmmaking adalah perkara politik sejak semula terutama ketika rezim yang berkuasa menetapkan kode produksi yang ia anggap kekanak-kanakan. Percakapan Panahi dengan keponakan perempuannya memperlihatkan bahwa kekuasaan yang diselewengkan atas nama agama atau hal semacam itu, memperlakukan seniman dan warganya secara umum bagai kanak-kanak yang tidak bisa menerima kenyataaan yang berjalan pahit. Padahal dalam banyak kesempatan rezim itu sendirilah yang membuat hidup begitu pahit bagi banyak orang.

Panahi juga menyindir soal peredaran DVD bajakan yang menjadi sumber utama pengetahuan dan pembelajaran bagi mahasiswa film dan sutradara seperti dirinya. Tanpa adanya peredaran gelap keping film (dan musik) itu, pertemuan film dengan publiknya tak terjadi, dan proses belajar jadi sangat terbatas. Lewat “kerja budaya” recehan inilah Panahi bisa mengakses film Woody Allen, Midnight in Paris, atau mahasiswa film di Teheran dikenalkan pada Kim Ki Duk. Ini adalah sebuah anggukan hormat yang santun dari Panahi terhadap apa yang disebut Ramon Lobato (2007) sebagai sisi gelap ekonomi sinema yang justru membuat sirkulasi film tetap berjalan sekalipun dalam kondisi infrastuktur hukum dan ekonomi yang tidak ideal.

Sekalipun sedang bergerilya, seperti pada film sebelumnya Mirror, Panahi terus mempersoalkan ilusi yang dianggap sebagai realisme oleh pembuat film pada umumnya. Ia kembali keluar dari perangkap membangun realisme berdasar plausibility alias prosedur kemasukakalan konstruksi film, melainkan menjadikannya sebagai sebuah dialog antara film dengan penonton.